Sunday, 28 October 2018

Segala Tentang Cosplay - Sejarah, Alasan, dan Masa Depan.


"Media hiburan tidak ada habisnya dan tidak akan pernah habis. Kau temukan satu maka akan ada lagi yang lain."
Cosplay atau "Costum Play", Kegiatan yang memakai sebuah kostum dengan menjadikan tokoh terkenal sebagai referensinya, entah itu tokoh fiksi seperti dalam sebuah kartun, game, film, ataupun tokoh yang memang benar-benar nyata ini, menjadi salah satu media yang lumrah di masa kini dan sangat digemari oleh hampir semua kalangan.

Tak hanya itu, ia juga menjadi wadah orang-orang kreatif untuk menuangkan kreatifitasnya. Dan tak sedikit pula untuk mereka yang menggunakannya sebagai ladang duit untuk mencari sebutir beras.

Tapi bagaimana fenomena ini dimulai? Sejak kapan cosplay berubah dari menjadi sebuah budaya favorit semua orang?

Sejarah Cosplay


Layaknya membuka kotak pandora, menguak kebenaran sejarah sebenarnya dari cosplay ini sangat tabu untuk dilakukan. Karena pada dasarnya ia seperti mitos. Ia tidak punya catatan tertulis yang pasti. Tapi bukan berati tidak ada sama sekali.

Dikenal dengan istilah "Costuming" atau "berkostum", cosplay dimulai pada sekitar tahun 1930-an di Amerika Utara. Pada waktu itu, cosplay tidak mengharuskan pesertanya untuk meniru sebuah tokoh karakter, melainkan sesuai dengan tema.

Seperti yang dilakukan Forrest J. Ackerman, ia mengenakan kostum futuristik di salah satu acara pertemuan Sci-fi. Dia adalah orang pertama yang menghadiri acara tersebut dengan mengenakan kostum. Alhasil, dari tahun ke tahun makin banyak orang yang juga mengikuti jejaknya dan acara tersebut mulai menilai dan memberikan hadiah kepada mereka yang memakai kostum terbaik.

Tapi istilah "Cosplay" baru tercipta di tahun 1984. Ketika, salah seorang reporter asal Jepang yang bernama Nobuyuki Takahashi mengunjungi dan meliput acara WorldCon di Los Angeles. Saat mencoba menterjemahkannya kedalam bahasa jepang, ia menggabungkan kata 'Costum' dan 'Play' menjadi Cosplay, untuk menggantikan kata 'Masquerade' yang menurutnya saat itu terdengar sangat kuno.


Berlanjut hingga sekarang, yang mana saat ini cosplay menjadi sebuah kebudayaan tersendiri. Di Amerika Utara saja, tidak akan aneh jika melihat beberapa orang mengenakan kostum dalam sebuah event. Cosplay juga tidak dibatasi hanya untuk genre Sci-fi ataupun Anime saja, tapi juga merambah ke berbagai macam genre. Mulai dari pahlawan super, karakter kartun, karakter video game, dan masih banyak lagi.

Di Jepang, cosplay bahkan sudah menyatu menjadi sebuah bagian dari budaya pop mereka, terutama di distrik Harajuku dan Shibuya. Cosplayer di daerah ini sudah menganggapnya sebagai berpakaian sehari-hari, jadi jangan heran kalau ketika kalian kesana, tak jarang kalian akan berjumpa dengan satu dua (atau bahkan banyak) yang dengan bangga bercosplay ria di jalanan.


Begitu juga dengan 'Maid Cafe', atau kafe pelayan. Sebuah surga tempat dimana para pelayannya mengenakan kostum sebagai maid (aka pelayan rumah tempo dulu) dan memanggil para pelanggannya dengan panggilan 'Master' atau bahasa jepangnya 'Goushujin-sama'. Dan Maid Cafe ini sangat-sangat terkenal tak hanya di Jepang saja, tapi seluruh dunia juga tahu tentang eksistensi cafe ini. Meskipun, tak sedikit pula yang mempertanyakan keberadaan media hiburan ini.

Kenapa Orang-Orang Ber-Cosplay?

Love


Apapun alasannya, rasa cinta pasti yang utama. Ada sebuah media yang melakukan wawancara dengan beberapa cosplayer dan menanyakan, kenapa mereka bercosplay? Mereka bercerita bahwa ada kesenangan tersendiri ketika mereka menjadi orang lain dalam kostum itu. Yang lain berkata bahwa dengan menjadi orang lain, itu memberi mereka kekuatan, dan itu menumbuhkan rasa percaya diri pada diri mereka. Sementara yang lain berkata "Melalui Cosplay, aku bisa menjadi kerakter yang aku inginkan. Dan aku hidup dan bisa merasakan betapa kerennya mereka."

Dan lagi, ada rasa kekompakan yang sangat kuat dalam komunitas ini. Entah mereka yang senang menjadi model, merajut baju, ataupun fotografi, fans dapat berinteraksi satu sama lain yang juga mempunyai ketertarikan yang sama. Terlebih lagi, ada rasa persatuan diantara mereka, dan itu sangat mengagumkan.

Oke, bayangkan ketika dalam sebuah event, ada orang lain yang juga bercoplay sama dengan karakter kita saat itu atau karakter lain namun dari seri yang sama. Foto bersama pasti akan terjadi, dan hal inipun juga memikat para penonton untuk ikut berfoto. Do you agree?

Money

Meskipun banyak yang bercosplay untuk bersenang-senang, tapi tak sedikit pula yang mencari uang untuk hidup, dan menjadi seorang cosplayer professional atau bahkan menjadi seleb karenanya. Ada banyak sekali cosplayer yang menggantungkan hidupnya di karir cosplayer ini. Sebut saja Jessica Nigri, cosplayer Profesional super hot ini mendapat upah dari setiap foto cosplay yang dilakukannya.

Jessica menjadi populer sejak fotonya "Sexy Picachu" yang ia unggah di internet viral dan mendapat perhatian netizen kala itu. Sejak itu, ia kerap kali diundang ke event-event cosplay untuk menjadi model cosplay ofisial untuk memperagakan bermacam-macam model karakter.

Nama Jessica makin melambung seiring dia membuat fanspagenya di Facebook serta Youtube.


Resiko Dari Cosplay?


Selain ada banyak sekali manfaat dari kultur budaya ini, tapi perlu kita tekankan bahwa resiko untuk menjadi cosplayer selalu ada dan tak bisa disepelekan.

Pelecehan Seksual

Yep, Hal ini menjadi resiko prioritas. Karena ini bukan hanya menyangkut masalah sosial tapi moral. Memang, saat ini tak sedikit dari karakter fiksi yang ada sekarang memiliki kostum atau baju yang kekurangan bahan sangat sensual. Dan hal ini jelas mengundang kejahatan dari pelaku manapun. Sudah banyak sekali kasus yang terjadi atas laporan para cosplayer yang menjadi korban. Mereka para wanita yang kena sembur pelaku karena gak cocok dengan kostumnya, yang kena 'grepe', dan masih banyak lagi. Come on, dude.

Anggapan

Ini sebenarnya kembali ke diri sendiri, tapi tak jarang banyak dari kita (dan mungkin termasuk kita) selalu menilai apa yang telah ditampilkan oleh sang cosplayer. Entah itu kostumnya yang kurang miriplah, atau gak cocok dengan kostumnya, bla-bla-bla. So why? Tidak ada orang yang sempurna, jadi jangan main hakim sendiri.

Cosplay seharusnya menyenangkan, baik oleh sang cosplayer maupun kita yang menontonnya. Sekali lagi, cosplay seharusnya menjadi ajang untuk menyatukan berbagai macam orang yang memiliki kesamaan hobi, dan mereka yang suka dengan karakter yang sama.

Masa Depan Cosplay Di Ranah Dunia Hiburan



Nah, seperti yang kita ketahui, tidak ada yang pasti dalam dunia hiburan. Yang namanya hiuran pasti ada masanya ia akan surut karena ada hiburan baru yang lebih menyenangkan atau memang karena hiburan tersebut sudah berlangsung terlalu lama, sampai-sampai para penikmatnya sendiripun bosan. itu adalah fakta yang tidak bisa dihindarkan.

Tapi untuk coslay sendiri, sinarnya belum akan pudar untuk beberapa puluh tahun kedepan. Sebab, komunitasnya tidak pernah mati dan dunia hiburan masih membutuhkannya. Dari setiap bulan bahkan tahun, selalu ada produk baru yang ditawarkan. Mulai dari komik, anime, visual novel, dan game baru selalu muncul, dan Cosplay adalah salah satu strategi pemasaran yang cukup efektif untuk menarik minat pembeli.

Belum lagi, jumlah event yang diadakan di berbagai negara semakin banyak dan komunitasnya yang makin hari kian meningkat. Jelas, tawaran untuk sejumlah proyekpun akan melimpah.

We All Love Cosplay!

Bagaimana menurutmu?

Previous Post
Next Post

post written by:

0 comments: