Saturday, 5 January 2019

Review Lengkap Girl’s Frontline - The Underrated Black Horse

Sebelum kita mulai

Bagi kalian yang pecinta anime dan belakangan ini sering bermain game di smartphone dan menyelam di dunia maya, maka setidaknya telinga kalian pernah mendengar nama game “waifu collector” yang satu ini. Game yang memakai konsep kurang lebih sama dengan Kantai Colletion dan sejenisnya, yakni “moefiksai benda mati”. Hadir, sebagai salah satu alternatif sarana bermain penghilang rasa bosan anda, Girl’s Frontline.

Berbeda dari yang sudah ada. Kantai Colletion dengan moefikasi kapalnya (yang diikuti pula oleh Azur Lane) Girl’s frontline mengambil “senjata api” sebagai temanya. Dan inilah hasilnya. Terasa klise, tapi juga fresh disaat yang bersamaan.

Wow! Senjata jadi waifu? That’s owesome! Let’s play it!

Tapi bentar, bagi yang belum mencoba game ini sama sekali, ada baiknya kalian membaca review ini terlebih dahulu. Agar, tidak menyesal dikemudian hari. Wwwww.

Story


“Di awal abad 20, telah ditemukan sebuah reruntuhan yang sangat maju, peninggalan dari bangsa alien di negara Rusia yang bernama ‘Precursors’ atau perintis. Melihat betapa majunya teknologi yang dimiliki, Amerika serikat dan Uni Soviet mulai melakukan pencarian sisa-sisa reruntuhan yang ada di seluruh penjuru dunia untuk memngetahui dan mempelajari teknologi dari reruntuhan alien ini.”

“Di tahun 2032, sebuah insiden besar terjadi, yang dikenal sebagai ‘Insiden Pulau Utara’, yang mana…” blablabla dan seterusnya. (capek translatenya “-_-)

Berbeda dari Kantai Colletion dan Azur Lane, yang mana masing-masing dari 'kapal' memiliki riwayat sejarah tertulis yang jelas dan akurat. Girl's Frontline yang mengadaptasi tema senjata api tidak bisa melakukan hal itu. Karena pada dasarnya, senjata adalah benda mati yang tidak punya asal-usul dan hanya diproduksi secara massal. 

Yang mana pada akhirnya, mereka mengubah senjata api mekanik menjadi sebuah android bertubuh wanita-wanita cantik (banyak yang loli) yang disesuaikan dengan latar senjata itu diproduksi, atau bisa disebut dengan 'T-doll'.

Lalu bagaimana dengan cerita utamanya? Solusinya? Membuat cerita yang benar-benar baru. Alien? AR-Team? Last Frontier? Apapun itu, sebuah langkah yang cukup beresiko untuk diambil namun pada akhirnya berhasil dieksekusi dengan cukup baik. meskipun pada akhirnya... yah... masih menyisakan banyak tanda tanya karenanya.

Well, kesampingkan hal itu, fakta bahwa kita juga sering 'skip' setory yang ada di setiap game yang kita mainkan. Apa yang dilakukan oleh developer yang satu ini patut kita acungi jempol. Do you agree with me?

Gameplay


Menjadikan Tactical RPG sebagai pondasi utamanya, jalan Girl's Frontline di kancah industri ini terbilang sangat sulit. Namun, ia menunjukkan bahwa ia mampu dan menjadi sebuah game yang mandiri dan mempunyai identitas tersindiri. Bagaimana tidak? Ditengah marak dan banyaknya game action di luar sana, Girl’s Frontline berhasil bertahan dengan mengandalkan gameplay strategi dan hanya bermain pencet. Sesuatu yang pantas untuk diapresiasi. 

Meskipun salah satu faktor utama penentu game ini bisa bertahan adalah waifunya, tapi secara pribadi, apa yang disuguhkan game yang satu ini memang memiliki satu kesan tersendiri yang melekat hingga sekarang.

Di dalam game ini, kita berperan sebagai seorang komandan/Shikikan, yang mengatur dan merawat segala macam T-doll yang kita miliki. Tapi yang paling utama adalah, bagaimana cara kita untuk mengatur pasukan se-efektif mungkin untuk menyerang markas musuh. Karena setiap T-doll yang ada memiliki sifat dan kemampuan yang berbeda-beda. Dan kemampuan yang dimiliki dari masing-masing T-doll mampu mendukung T-doll yang lain, jika ditempatkan di posisi yang tepat.

Karena apa? Salah posisi sedikit saja, akan membuat build-team yang sudah kamu atur justru akan berantakan dan menjadi bumerang bagi anda sendiri. Alhasil, yah... kalian akan melucuti pakaian T-doll kalian dan tentunya. Dan kondisi terburuknya adalah, menurunkan kepercayaan dan cinta T-doll terhadap anda sekalian.

Ribet? Ya! Tapi kalian akan terbiasa.

Untuk masalah teknis, game ini sebelas-duabelas dengan Azur Lane. Mulai dari fitur gacha untuk mengumpulan pasukan, leveling, pasang equipment, hingga fitur yang paling sentralnya adalah : ‘menikah’. Tapi ada satu yang menjadi pembeda adalah, gaya saat bertempur. 

Di dalam Azur Lane, kita masih bisa mengendalikan pasukan dengan bebas dengan menggerakkan… analog? Untuk menghindari serangan musuh. Sementara Girl’s Frontline, kita tidak bisa melakukan hal itu. Sebagai gantinya, kita bisa mengubah posisi pasukan kita sesuka hati ketika bertempur untuk menghalau musuh yang menerjang.

Overall, walaupun terkadang saat mengatur pasukan kita bisa migrain, tetapi gameplay yang ditawarkan Girl’s Frontline dibuat dengan sangat matang dan baik, dan terkadang bikin ketagihan untuk mengeksplore lebih akan variasi pasukan yang ada.

Raifu

Apa kata dunia kalau game gacha tapi gak ada waifunya? Game yang bersetting di negara Rusia, yang mana pemeran utamanya orang Amerika, dibuat di negara Cina, diterbitkan di Taiwan, dan menghasilkan uang di Korea ini adalah gudang untuk segala jenis ‘Raifu’ (Riffle+Waifu). Bukan tanpa alasan, karena semua senjata api yang ada di game ini dirubah menjadi seorang gadis, tanpa terkecuali.
Ya, mungkin ini impian bagi sebagian orang. Berbahagialah.

Lantas, bagaimana dengan kerakteristik sang Raifu? Tenang saja, masing-masing dari setiap jenis senjata memiliki sifat dan perwujudan yang berbeda-beda. Entah pakai rumus apa mereka bisa menggambarkan para Raifu ini, tapi hasil yang telah mereka capai sangat memuaskan.

Kalian ingin raifu yang tsundere? Ada! Mau yang keibu-ibuan? Ada! Mau yang gadis cilik juga ada. Semuanya lengkap dan ada disini.

Eits, tapi jangan senang dulu, karena setiap Raifu memiliki klasifikasi/rating yang berbeda-beda. Sebagai contoh adalah raifu super populer WA2000. Raifu tsundere ini adalah adalah senapan jarak jauh a.k.a sniper dengan rating bintang 5. Untuk memperolehnya saja harus untung-untungan dan tidak semua Shikikan bisa memilikinya. It’s salty time.

Kesimpulan

Game yang membosankan tapi punya banyak potensi.


Sekedar pendapat pribadi, entah kenapa saya merasa game ini adalah game coba-coba, yang dibuat oleh tim seadanya, dengan anggaran ala kadarnya, tapi untungnya dikerjakan dengan sepenuh hati. Believe me. 

Banyak sekali aspek negatif yang melekat pada game ini. Mulai dari gameplay-nya yang repititif dan tidak ada ivonasi yang signifikan, sistem pengaturan pasukan yang bikin sakit kepala, alur cerita yang sangat-sangat singkat, sampai konsep t-dollnya yang terkadang bikin geleng-geleng kepala. (I mean… gadis cilik yang pegang senjata kelas berat seperti “Machine Gun”? Really?)

Hasilnya apa? Banyak yang berhenti bermain tatkala mulai jenuh. Berapa banyak diantara kita yang memulai game ini, kemudian berhenti satu dua bulan kemudian? Atau bahkan tidak sampai seminggu? Lalu menghapus game ini dari beranda smartphone. Anda juga termasuk? Well jujur saja, saya juga pernah seperti itu XD.

Tapi disaat yang sama, ia memiliki segudang potensi yang bisa digali dan disempurnakan.

Jika diperhatikan dengan seksama, Girl’s Frontline perlahan-lahan mulai berbenah diri dan memperbaiki apa yang kurang dari gamenya. Segudang konten ditambahkan secara bertahap dan berkala. That’s why, I’m decided to come back, to play this game again.

Berangkat dari situ, kali ini kami akan beberkan beberapa potensi yang dimiliki game yang satu ini yang akan membuatnya terus ada nyaman untuk dimainkan. Potensi-potensi yang kami sebutkan murni dari pendapat pribadi. Lanjut ke bagian dua.

Previous Post
Next Post

post written by:

0 comments: